Pertemuan 1 – Kajian Keluarga Besar Ma’had An-Nama’
Pertemuan 1 - Kajian Keluarga Besar Ma'had An-Nama'
Diterbitkan : Tue, 29 September 2026
Penulis : admin
ma'had

Kitab ini Kaifa Turabbi Abnā’aka, Kitab yang berisi 30 kaidah tentang metode terbaik dalam mendidik anak. Penulisnya adalah Syaikh Ahmad At-Toyyar dan ditahqiq oleh Syaikh Dr. Muhammad Dawwis.


 


Kelak di akhirat, Allah akan bertanya kepada para ayah tentang anak-anaknya sebelum anak-anak ditanya tentang ayahnya. “Wahai ayah, Kami telah menganugerahkan seorang anak kepadamu. Maka, apa yang telah engkau lakukan terhadapnya? Apakah dididik, dirawat, atau justru disia-siakan?”


 


Anak dan ayah sama-sama mempunyai hak. Hak diperoleh setelah menjalankan kewajiban.


 


Hak seorang ayah yang menjadi kewajiban anak adalah taat kepada ayahnya.


 


وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَانًا


 


“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
(Al-Ahqaf: 15)


 


Hak seorang anak yang menjadi kewajiban ayah adalah menjaga dan menjauhkan anaknya dari api neraka.


 


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا


 


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(At-Tahrim: 6)


 


Pilihlah pendidikan yang baik, teman yang baik, dan lingkungan yang baik untuk anak.


 


Penyebab terbesar rusaknya anak adalah karena kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak. Pendidikan bukan hanya formalitas: pergi pagi, pulang siang. Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Maka, peran orang tua sangat berarti dan memiliki peran utama, bahkan lebih banyak daripada guru di sekolah.


 


Lurus atau bengkoknya anak sangat bergantung pada lurus atau bengkoknya orang tua.


 


Keberhasilan pendidikan terlihat ketika anak mendapatkan ilmu dari sekolah, kemudian mengamalkannya di rumah. Bukan sebaliknya, ketika di rumah justru longgar dan ilmu tersebut diabaikan.


 


Pengabaian terhadap anak ketika masih kecil, misalnya ketika anak berbicara kotor atau tidak sopan lalu dibiarkan dengan alasan, “Tidak apa-apa, dia masih kecil,” dapat membuat anak merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah benar karena tidak ada teguran.


 


Setiap hari kita menginginkan kesejahteraan dan harta yang baik untuk kita, tetapi jangan sampai kita melupakan pendidikan anak-anak kita.


 


Ujian kita sebagai orang tua semakin banyak. Tontonan dan media yang bebas semakin mudah diakses. Hal yang positif dan negatif bercampur. Apalagi jika anak tidak didampingi, maka hal tersebut bisa menjadi berbahaya. Misalnya, ada tontonan atau contoh anak yang membakar rumah orang tuanya, berbuat fatal kepada orang tuanya, dan lain sebagainya.


 


Ketika anak berada di rumah, kita tanyakan dan ajak berkomunikasi tentang apa yang dialaminya di ma’had. Dengarkan ceritanya dan jangan bosan untuk mendengarkannya. Pada fase kedua, yaitu ketika anak berusia 7–14 tahun, anak mulai diajak berdiskusi.


 


Buku ini membagi pembahasan menjadi dua bab.


 


Bab 1: pencegahan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bab 2: solusi atau obat.


 


Maka, perlu dilihat kelemahan anak berasal dari sisi mana: apakah dari orang tuanya, tabiatnya, atau karena anak mudah terbawa arus? Jika kita mengetahui sumber masalahnya, maka obat atau solusinya bisa diberikan dengan tepat.


 



Kaidah 1
أن نعامل أبناءنا حسب مرحلتهم العمرية، وفي الحكمة المشهورة: لاعب ولدك سبعا وأدبه سبعا، وصاحبه سبعا


 


“Bermainlah bersama anakmu selama tujuh tahun pertama. Didiklah dia selama tujuh tahun berikutnya. Bersahabatlah dengannya selama tujuh tahun setelahnya.”


 


Pada tujuh tahun pertama, bermainlah bersama anak karena hal tersebut membangun hubungan, interaksi, dan chemistry dengan anak. Jangan sampai sosok orang tua kalah dengan babysitter. Ketika babysitter mengundurkan diri, anak menangis, tetapi ketika orang tuanya meninggal, anak justru biasa saja.


 


Di antara profesi terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Maka, jangan sampai masa belajar anak mengenal huruf hijaiyah diambil pahalanya oleh orang lain. Maka, bangun koneksi sebelum koreksi.


 


Contoh perbuatan membangun koneksi adalah apa yang dilakukan Nabi ﷺ kepada cucunya, Hasan. Beliau sering menciumnya.


 


Seorang sahabat bernama Al-Aqra’ melihat perbuatan Nabi ﷺ tersebut dan berkata, “Aku memiliki sepuluh anak, tetapi tidak ada satu pun yang aku cium.”


 


Nabi ﷺ menoleh dalam keadaan terkejut dan heran, lalu menasihati:


 


مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ


 


“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”


 


Tidak selalu ketidakbaikan anak murni karena kesalahan anak. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena orang tuanya. Orang tua yang tidak menyayangi anaknya, maka jangan berharap anaknya akan menyayanginya.


 


Nabi ﷺ hendak melaksanakan salat Zuhur atau Asar dan beliau menggendong Hasan atau Husain. Ketika hendak salat, cucunya diletakkan di sampingnya, kemudian beliau bertakbir untuk memulai salat. Ketika beliau sujud, beliau memanjangkan sujudnya. Hal ini membuat para sahabat bertanya-tanya, mengapa sujud beliau begitu panjang. Tatkala selesai salat, orang-orang bertanya, “Wahai Nabi, engkau melakukan sujud yang panjang. Kami khawatir terjadi sesuatu pada engkau.” Nabi ﷺ menjawab, “Apa yang kalian kira itu tidak terjadi. Akan tetapi, cucuku sedang menunggangiku. Aku enggan mengusik ketenangannya sampai benar-benar dia menyelesaikan hajatnya.”


 


Mari sama-sama kita koreksi diri kita masing-masing agar anak keturunan kita, sebagai generasi penerus, menjadi generasi yang saleh dan salehah.


 


Nabi Ibrahim berdoa dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 40–41:


 


رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ


 


“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”


 


رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ


 


“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”


 


Doa tersebut mengingatkan kita bahwa mendidik anak agar menjadi pribadi yang taat kepada Allah harus disertai usaha nyata dan doa yang terus-menerus.


Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menjadi orang tua yang amanah, mendidik anak dengan ilmu dan kasih sayang, serta mengaruniakan keturunan yang saleh dan salehah.


Penutup


Pada akhirnya, segala kebenaran dalam tulisan ini datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan segala puji hanya milik-Nya. Adapun kekurangan dan kesalahan di dalamnya berasal dari diri penulis yang lemah dan dari setan. Semoga Allah mengampuni kekeliruan kita, memperbaiki niat dan amal kita, serta membimbing kita dalam menjalankan amanah mendidik anak-anak.


Ditranskrip oleh Tim Ma’had An-Nama’ dari kajian Ustadz Nanang Farhani, Lc., S.S., MA. tentang kitab Kaifa Turabbi Abnā’aka, yang membahas 30 kaidah dalam mendidik anak.


 


—


PSB Ma’had An-Nama’


Penerimaan Santri Baru (PSB)


Ma’had An-Nama’ membuka kesempatan bagi Ayah dan Bunda untuk memberikan pendidikan Islam yang insyaallah membantu membentuk generasi berilmu, kokoh akidahnya, tepat ibadahnya, mulia akhlaknya serta mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Mari ikhtiarkan pendidikan terbaik bagi putra-putri kita melalui:


– SMP Islam An-Nama’
– SMA Islam An-Nama’


Sebab, pendidikan anak bukan sekadar mempersiapkan masa depannya di dunia, tetapi juga ikhtiar untuk membimbingnya meraih keselamatan di akhirat.


Ma’had An-Nama’ — Kokoh Akidahnya, Tepat Ibadahnya dan Mulia Akhlaknya


Informasi Pendaftaran Santri Baru: https://mahadannama.com/register/

Kajian

Artikel Lainnya

SMP Islam An-Nama’ dan...
MALANG – SMP Islam An-Nama’ dan SMP Islam Al-Umm menggelar pertandingan persahabatan atau sparing futsal pada Jumat, 2...
Tue, 20 October 2026 | 3:01
Semarak HUT RI di...
Malang, 17 Agustus 2026 — Ma’had An-Nama’ turut menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dengan...
Mon, 17 August 2026 | 8:05
Ma'had AN-Nama Gelar Program...
Malang, 25–26 Juni 2026 — Dalam rangka memperkuat kebersamaan sekaligus menyelaraskan pemahaman seluruh sumber daya manusia (SDM) terhadap...
Fri, 26 June 2026 | 10:55