pesantren sunnah malang

Fasilitas Rumah sebagai Media Tarbiyah

Fasilitas Rumah sebagai Media Tarbiyah
Oleh:
Thoriq bin Abdul Aziz At-Tamimi, Lc., M.A.

Kalau ada pertanyaan mana yang lebih baik untuk anak? Setiap anak memiliki kamar tidur dan kamar mandi sendiri atau keduanya untuk bersama? Pertanyaan ini dijawab oleh pakar tarbiyah Timur Tengah bahwa yang lebih utama kamar tidur dan kamar mandi untuk bersama meskipun bisa masing-masing anak punya kamar tidur dan kamar mandi sendiri lebih menenangkan bagi para orang tua yang mampu. Akan tetapi dalam tarbiyah kita tidak boleh menonjolkan rehat/manja, justru yang dicari adalah menempa diri dan mental anak meski terdapat kelelahan (ketidaknyamanan) bagi anak.

Ketika sapetu kamar mandi digunakan oleh lebih dari satu anak, mereka akan belajar banyak, misalnya; mengatur urutan tertib penggunaan kamar mandi dan penjagaan kebersihannya karena masing-masing tahu bahwa itu milik bersama. Setiap anak akan memiliki tanggung jawab dan mengatur kesepakatan dengan saudaranya. Juga belajar minta izin, menumbuhkan kesepahaman, dan diplomasi mencari kesepakatan. Semua kelebihan ini tidak ada pada anak yang punya kamar mandi dan kamar tidur sendiri.
Meskipun keluarga kaya dan rumah besar, namun penggunaan kamar bersama di masa kecil sampai usia Tamyiz (10 tahun-an) itu lebih utama. Kemudian bila ada kelapangan tempat dapat dipisahkan sesudah anak tumbuh besar.
Tata letak ruang dalam rumah sungguh memiliki nilai-nilai tarbiyah yang harus dikembangkan potensinya. Pada masa lalu penataan rumah kuno itu, ada ruang tengah khusus untuk keluarga dan tempat bermain anak-anak yang bisa terlihat dari semua kamar sehingga anak-anak terawasi. Adapun sekarang, masing-masing anggota keluarga hidup dalam kotak kamar sehingga nyaris lepas dari kontrol orang tua karena tidak tahu apa yang terjadi di dalamnya.

Menggunakan ruang tengah untuk duduk bersama dengan anggota keluarga dan bercakap-cakap, juga menggunakan meja makan untuk kerja sama menghadirkan makanan dan membawa piring-piring serta membagi makanan yang berlebih pada kakak atau adik adalah bagian dari Tarbiyah anak untuk belajar mengelola kebutuhan bersama, menjaga dan mensyukuri nikmat, serta menjauhi boros dan lain-lain. Maka secara otomatis orang tua menjadi Murobbi yang unggul dalam menanamkan nilai-nilai persaudaraan dan kekeluargaan.

Seorang pakar bercerita pernah ada kejadian yang sulit dipercaya akan tetapi ini adalah fakta.
Sepasang suami-isteri datang menghadap saya mengeluhkan problemnya. Si suami mensyaratkan dalam rumahnya kamar mandi khusus untuk dirinya saja, istrinya pun tidak boleh mencampurinya. Tentu saja si istri berang dan merasa aneh bahkan melahirkan kecurigaan yang tidak-tidak pada suaminya sampai jadi bahan pertengkaran yang kalau dibiarkan akan berujung cerai. Kemudian kami pun mengadakan studi khusus untuk kasus ini sehingga terungkap bahwa sang suami sejak kecil memiliki kamar tidur dan kamar mandi sendiri, sehingga dia tidak bisa berbagi dalam hal itu. Setelah mendapat penjelasan, sang istri pun memahami kejiwaan suaminya. Inilah hasil negatif dari Tarbiyah yang tidak melihat ke depan.

Pengelolaan barang-barang dan kepemilikan dalam rumah dan penggunaannya secara bersama akan melatih seorang anak untuk terbiasa hidup berdampingan dengan orang lain sejak kecil, kemudian akan berkembang bersama waktu menjadikan si anak bisa mengambil sikap bagaimana dia hidup dengan teman-temannya dan masyarakatnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.